Bagaimana Cara Menulis Buku Pertama ?

Bagaimana Cara Menulis Buku Pertama ?

Menulis Buku Pertama bukan hal mudah bagi setiap orang. Harus ada tips dan trik khusus untuk bisa menyelesaikan buku perdana yang bisa menjadi gerbang bagi tertulisnya buku-buku selanjutnya.

Apakah tips dan trik itu?

Setidaknya ada beberapa point yang bisa menjadi pertimbangan, yaitu:

  1. Menulis sesuatu yang kita kuasai
  2. Menulis yang Terterdekat dengan kita

Berikut saya tuliskan Cara Menulis dan Membuat Buku Pertama Serta Panduan Lengkapnya, dengan harapan Anda akan mudah untuk memahaminya.

Yuk silahkan dibaca ya,

  1. Proses Menulis Buku

Pernah merasa tertekan saat akan menulis? Dengan berbagai alasan; belum biasa, kurang banyak membaca, kurang pengalaman atau apalah itu. Lalu, bagaimana jika Anda dihadapkan pada kenyataan menulis sebuah buku? Wah kebayang lagi giman lebih bingungnya, ya kan? Iya iya lah. Lha wong nulis artikel saja punya banyak alasan untuk menghindar, apalagi nulis buku yang tentunya berat berkali-kali lipat dari nulis artikel. Nah, dalam artikel ini saya akan membahas tentang bagaimana Cara Menulis Buku Pertama Berikut Panduan Lengkapnya. Menarik kan? Yuk kita mulai pembahasannya.

Menulis Artikel VS Menulis Buku

Nulis buku itu memang tidak mudah. Saya ulangi, Tidak Mudah. Kenapa? Karena kita harus bisa mengaitkan satu tulisan yang kita buat dengan tulisan lainnya. Anggap saja tulisan yang kita buat dalam satu judul itu artikel, maka buku ini harus menggabungkan banyak artikel dengan panjang yang lumayan untuk saling terkait membentuk satu cerita dan alur yang menarik.

Masalahnya adalah bagi Anda yang tidak terbiasa menulis, ini  menjadi semacam ujian berat dalam hidup. Hahahha.

Ya, jika menulis artikel adalah ujian kecil yang mungkin mudah dilewati dalam satu atau beberapa hari saja, menulis buku ini bisa satu atau beberapa bulan. Bahkan mungkin tahun atau seumur hidup, karena saya yakin banyak orang yang hingga meninggal tidak menulis buku sama sekali.

Kan pernah nulis skripsi? Eh… jangan salah skripsi berbeda dengan buku. Karena buku biasanya  ditulis karena ingin sharing sesuatu yang berguna, sedangkan skrips ditulis biasanya karena kewajiban akademik, juga tuntutan dari orang tua dan mertua, Ups…benar kan?

Seberapa sulit sih?

Sebagai gambarannya untuk menulis artikel maka kita harus mendapatkan point-point dan bahan penulisan serta alurnya. Ya, dalam penulisan artikel yang jumlahnya biasanya minimal 1 halaman A4 harus mengandung tiga unsur tadi. Nah, masalahnya dalam penulisan 1 judul (sub bab) buku, kita harus menulis minimal 2 halaman bahkan lebih. Llebih panjang setiap judul dalam setiap bab buku biasanya lebih menarik, karena biasanya lebih lengkap dan detail.

Itu baru satu judul, bagaimana jika kita harus menulis banyak judul yang semuanya harus ada keterkaitan satu sama lain? Tentu bukan hal yang mudah bukan? Karena itu penting untuk mengetahui bagaimana cara dan panduan menulis buku pertama sebagaiman yang akan kita bahas dalam artikel ini.

Menulis Buku Membutuhkan Niat yang Kuat

Apa niat awal Anda menulis?

Saya perlu menanyakan ini karena jawaban Anda akan berpengaruh pada bagaimana buku Anda nantinya. Jika Anda niat menulis buku untuk formalitas, misalnya untuk kenaikan pangkat, jabatan, dll pasti akan berbeda dengan saat Anda menulis buku untuk membranding diri Anda di public.

Tidak bisa dipungkiri bahwa niat dan tujuan orang menulis buku memang berbeda-beda. Karena itu penting untuk mengetahui hal ini dengan jelas serta bagaimana teknik dan proses penulisan bukunya selanjutnya. Pada penulisan dengan niat pertama, biasanya yang menjadi pedoman adalah waktu dan jumlah halaman, tentunya dengan tetap memperhatikan kaidah penulisan buku yang baik dan benar. Sedangkan pada utnuk buku kedua, tidak mudah untuk membranding seseorang apalagi jika sebelumnya belum dikenal banyak di tengah public. Harus cocok antara konten, cara dan sasarannya karena ini akan mempersepsikan kesan di tengah masyarakat.

Menulis Buku Membutuhkan Semangat

Untuk menulis artikel yang hanya satu atau beberapa halaman saja dibutuhkan semangat yang kuat. Apalagi untuk menulis buku yang jumlah halamannya lebih banyak. Dibutuhkan semangat yang lebih besar lagi agar buku yang kita inginkan bisa terwujud.

Caranya?

Bayangkan bagaimana perasaan Anda saat buku yang akan Anda tulis selesai. Misalnya dengan buku itu Anda bisa memenuhi syarat tertentu untuk kenaikan karir Anda di perusahaan / instansi tempat Anda bekerja. Atau denan buku pertama ini Anda bisa membagikan berbagai hal bermanfaat yang ke depannya tentu akan lebih semangat lagi untuk menulis buku.

Cara ini sangat efisien dilakukan, karena setidaknya kita bisa melewati masa-masa sulit dalam proses penulisan buku, misalnya proses pengumpulan bahan dan data yang sulit, wawancara yang melelahkan serta proses transkrip wawancara yang membosankan. Belum lagi proses rewriting yang membutuhkan konsenstrasi penuh. Semua itu memang sangat memberatkan saat kita tidak punya gambaran positif saat apa yang kita lakukan dalam proses menulis ini nantinya membuahkan hasil (buku pertama kita selesai).

BACA JUGA   Membuat Outline untuk Penulisan Buku

Menulis Buku Membutuhkan Waktu

Nah, ini sebenarnya adalah modal utama dalam menulis, waktu. Ya, saat Anda akan menulis Anda harus rela meluangkan waktu yang tidak sebentar. Normalnya menulis 1 buku itu membutuhkan waktu 2-3 bulan dengan tebal buku jadi sekitar 100 – 150 halaman. Itu dengan catatan tidak ada sesuatu yang menghambat atau dengan kata lain proses pengumpulan bahan, penulisa dan editing berjalan dengan lancar.

Luangkan Waktu Khusus untuk Menulis

Menulis adalah proses kontemplasi, saat Anda memamah biahkan kata-kata dari apa-apa yang pernah And abaca sebelumnya. Saat proses itulah dibutuhkan konsentrasi penuh. Karena itu sebaiknya proses menulis dilakukan saat Anda merasa rileks dan tenang tanpa ada gangguan apapun. Misalnya saya yang seorang full time writer, meski sehari-hari saya ada di rumah, tapi saya memilihh waktu untuk menulis saat pasukan kecil saya terlelap tidur. Karena tahu sendiri bagaimana sukanya anak balita melihat laptop ayahnya yang sedang terbuka. Iya kan?

 

  1. Hal Teknis Sederhana dalam Penulisan Buku

Pilih Jenis Buku yang Akan Ditulis

Sebelum mulai ngegas nulis buku dengan semangat 45 nih, Anda harus menentukan dulu, jenis buku apa yang akan ditulis. Ini sangat penting, karena dengan mengerti jenis buku yang akan ditulis setidaknya kita punya gambaran; bagaimana buku kita nantinya, bahan apa saja yang kita butuhkan, bagaimana cara menulisnya dan setidaknya ada contoh buku referensi yang sudah jadi.

Perbanyak Referensi untuk Menulis

Bagi seorang penulis pemula, mungkin yang paling sulit dalam menulis adalah proses menulis itu sendiri (rewriting). Padahal sesungguhnya jika kita sudah terbiasa menulis, maka proses yang sangat penting lainnya adalah saat pengumpulan bahan.

Mengapa?

Karena dengan bahan yang sedikit, bisa dipastikan proses penulisan buku akan terkendala. Tapi biasanya kebanyakan penulis pemula sangat terburu-buru saat melakukan proses ini, karena mereka merasa apa yang mereka dapatkan sudah banyak. Padahal saat proses menulis mereka baru menyadari bahwa bahan-bahan yang didapatkan ternyata tidak semuanya layak untuk ditulis.

Maka penting saat proses pengumpulan bahan ini untuk mengakomodir semua bahan sebanyak mungkin. Tidak terbatas pada wawancara dan bahan tertulis, bahkan foto-foto, ijazah dan sertifikat penghargaan pun bisa memperkaya tulisan.

Membuat Outline

Outline adalah daftar point-point penulisan yang akan digunakan untuk panduan dalam menulis. Outline ini bisa disebut juga sebagai daftar isi buku sementara yang dalam proses penulisan buku bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan.

Jika Anda ingin membuat outline, bisa melihat pada daftar isi buku yang sudah jadi. Pelajari dengan seksama bagaimana daftar isi dibuat oleh penulisnya. Misalnya untuk oultline buku autobiografi Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Madji, maka yang ditulis adalah bagaimana;

  1. Latar belakang keluarganya
  2. Masa kecilnya
  3. Masa remaja
  4. Saat menuntut ilmu di Mesir
  5. Saat menjadi anggota DPR
  6. Saat menjadi Gubernur NTB
  7. Apa yang dilakukan dalam memajukan NTB

Secara garis besar online awalnya seperti itu. Kita bisa melihat bahwa sebenarnya dengan outline ini kita harus terbantu untuk mengembangkan tulisan kita. Bukan sebaiknya.

Outline Dulu atau Referensi Dulu?

Ada yang bertanya kepada saya, lebih baik mana membuat outline dulu atau mencari referensi dulu?

Jawabannya adalah semuanya sama-sama baik. Karena sifat outline adalah sementara. Di awal kita boleh membuat outline dengan menulis idealnya buku kita membahas apa saja, tapi dalam proses penulisan, outline ini sah-sah saja jika berubah, karena mungkin ada beberapa point dalam outline yang kita tidak mendapatkan referensinya. Atau melakukan perubahan agar pembahasan buku lebih menarik, mudah  dipahami, dll.

Perlu diingat referensi dalam penulisan buku bukan hanya bahan yang akan kita pakai untuk menulis, tapi juga buku sejenis yang bisa kita buat contoh untuk penulisannya. Ada banyak macam buku yang bisa dijadikan referensi. Jadi misalnya akan menulis buku tentukan hal ini.

Misalnya:

Akan menulis buku apa? Kisah hidup

Detailnya ? Buku autobiografi

Contohnya seperti apa? Buku …… (buku autobiografi tokoh yang sudah ada)

Perbanyak Referensi Tapi Punya Gaya Sendiri

Dengan banyak punya referensi buku, baik untuk bahan maupun contoh penyajian, maka kita akan semakin mudah untuk menulis buku pertama. Mempunyai banyak referensi sangat perlu, tapi kita juga harus punya gaya bahasa sendiri.

BACA JUGA   Cara Efektif Menghasilkan Buku Pertama

Menulis ada kegiatan kreatif, jadi semakin orisinil tulisan kita akan semakin baik. Buku-buku yan kita baa bisa jadi mempengaruhi perbendaharaan kata kita, tapi jangan sekali-kali untuk meniru gaya bahasa penulis lain. Miliki gaya penulisan sendiri. Dengan ini kelak pembaca akan menganali gaya bahasa kita.

Pisahkan antara Menulis dan Mengedit

Salahsatu kendala menulis yang hingga saat ini banyak dilakukan orang adalah ingin menulis dengan sempurna, tanpa ada salah sama sekali. Saat itulah mereka melakukan kesalahan besar. Karena menulis sejatiny adalah kegiatan bawah sadar kita untuk menuliskan kembali apa yang kita baca, lihat, dengar dan rasakan. Saat Anda berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang bagus dengan sekali tulis (tanpa edit), maka Anda akan terjebak pada kondisi takut salah yang mengakibatkan Anda salah terus.

Lalu bagaimana solusinya?

Saat menulis ya menulis saja. Jangan perhatikan; salah ketik, ejaan, kata per kata, kalimat per kalimat. Apa yang ada dalam hati dan kepala Anda keluarkan semua. Karena sebenarnya ini yang membuat sebuah tulisan mengalir. Tidak terhambat dengan perasaan takut salah.

Done is Better Than Perfect

Ini buku pertama. Jangan pernah mengharap buku pertama langsung bagus dan mendapat respon yang tinggi. Apalagi jika sebelumnya Anda belum terbiasa menulis. Memang ada seorang yang sekali menulis buku langsung mendapat respon yang baik dari masyarakat. Tapi ingat itu buku pertamanya, tapi bukan tulisan pertama.

Lalu bagaimana dengan buku pertama ini?

Yang utama adalah selesaikan dulu tugas Anda untuk misi penulisan buku pertama ini. saat misi pertama selesai, Anda otomatis akan punya semangat lagi untuk menulis buku kedua. Biasanya seperti itu. Buku kedua, ketiga dan selanjutnya biasanya lebih baik hasilnya, bahkan untuk pengerjaannya pun biasanya lebih efektif. Ya, Anda sudah punya pola menulis sendiri; kapan waktu yang nyaman bagi Anda menulis, bagaimana cara Anda mencari bahan tulisan di toko buku, perpustakaan, online, dll. Atau saat Anda menggunakan bahan dari wawancara, Anda tahu bagaimana cara mewawancara yang baik, cara transkrip yang efisien dan menulis naskah dengan lebih baik.

Baca Ulang dan Hidupkan Lagi

Saat penulisan selesai, coba untuk membaca ulang lagi. Koreksi kesalahan ketik per kata, kalimat, paragraph. Lakukan semampu Anda. Atau jika Anda ingin hasilnya lebih baik, Anda bisa menggunakan jasa editor yang lebih kompeten untuk mengedit tulisan.

 

  1. Proses Membuat Buku

Bagaimana cara membuat buku pertama ? sebenarnya pertanyaan ini sama dengan bagaimana mencetak buku pertama? Namun jika pertanyaan tetap seperti itu, maka Anda yang hanya membaca sekilas artikel dan sampai pada point ini, maka harus membaca ulang dari atas lagi. Semangat ya. He……

Untuk mencetak buku pertama kalinya, biasanya kebiasaan orang awam dengan percetakan. Bahkan ada yang tidak bisa membedakan antara percetakan dan penerbitan. Mudah seperti ini, penerbitan adalah usaha yang terdiri dari beberapa orang yang tugasnya menjadikan buku Anda dalam bentuk desain (adanya konten tulisan, lay out dan kover). Sedangkan percetakan adalah usaha yang bergerak dalam hal cetak-mencetak barang, salahsatunya adalah buku. Atau dengan lain penerbitan berkaitan dengan editing dan desain, sedangkan percetakan berkaitan dengan fisik buku.

Bagaimana cara mencetak buku yang efisien?

Caranya adalah dengan mencetaknya sesuai kebutuhan. Jika Anda membutuhkan hanya untuk syarat kenaikan pangkat jabatan / profesi, maka Anda cukup mencetaknya sejumlah yang diminta lembaga Anda dengan dilebihkan sebagai arsip. Begitu juga saat Anda membutuhkannya untuk buku ajar, maka Anda bisa mencetak sejumlah anak didik yang akan menggunakan buku Anda. Atau bagi Anda seorang motivator, dll yang membutuhkan dalam jumlah yang banyak, sebaiknya pertimbangkan opsi cetak lebih banyak harga lebih murah yang umum di berikan oleh percetakan. Intinya cetaklah buku sesuai kebutuhan Anda.

Mungkin cukup sekian pembahasan kita tentang  Cara Menulis dan Membuat Buku Pertama Serta Panduan Lengkapnya. Pembahasan dalam artikel ini akan terus saya tembah sesuai pertanyaan dari Anda yang masuk ke kontak saya. Jadi, jangan pernah bosan untuk berkunjung ke blog ini ya, dan sekedar klik artikel yang pernah Anda baca. Ok semoga sharing kali ini bermanfaat bagi Anda yang ingin mempunyai buku pertama. Tetap semangat menulis !

 

Untuk Cara Menulis Buku Pertama sudah saya buatkan videonya. Ini dia ……

 

Sedangkan untuk Cara Menulis dan Membuat Buku Pertama, ini videonya …….

 

Jangan bosan untuk berkunjung ke artikel ini. Karena dengan bertambahnya pengalaman dan informasi yang saya terima, saya akan menambah detail artikel ini.

Semoga bermanfaat.

Facebook Comments
BERGABUNG BERSAMA KAMI
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Bergabunglah dengan lebih dari 3.000 orang yang telah menerima email rutin dari saya, dan pelajari cara menulis kreatif di sosial media, artikel blog dan buku. Siapa tahu ini bisa menjadi penghasilan sampingan bahkan utama Anda
Email Anda aman bersama kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2021 IWAN WAHYUDI NET

                           PERKENALAN    

Iwan Wahyudi adalah Penulis Biografi, Ghost Writer dan Penulis Konten Perusahaan yang telah berpengalaman selama 10 tahun. 

Sebagai penulis telah membantu 30 + klien personal menyelesaikan penulisan bukunya. Ia bersama tim juga telah menyelesaikan puluhan konten perusahaan, baik berupa laporan (seperti annual report, sustainability report, CSR report) maupun yang berupa buku dokumentasi dan informasi (seperti buku sejarah dan majalah perusahaan)

Atas pencapaiannya ia juga  mendapatkan kepercayaan untuk membantu penerbitan buku kuliah berbagai universitas yang ada di Indonesia. Dengan cara ini ia memberi sumbangsih untuk turut mencerdaskan anak bangsa. 

Ia akan tetap membuka peluang kerjasama dengan pihak manapun; pribadi, perusahaan, instansi, organisasi, lembaga pendidikan dan yang lainnya untuk menghasilkan buku yang kreatif dan berkualitas dari segi isi dan tampilan.

Minat bekerja sama ? Silahkan WA di 0822 3000 3636