Pengalaman Memelihara Kucing

Pengalaman Memelihara Kucing

IwanWahyudi.net – Pengalaman Memelihara Kucing. Mungkin karena auraka positifku pada mereka inilah, sejak saat itu hingga saat ini kucing-kucing ini tidak pernah takut jika kudekati. Bahkan mereka cenderung mendekat. Dimanapun itu yang namanya kucing selalu mendekat saat aku berada di dekat mereka.

Maka tidak heran jika saat aku masih SD aku pernah memelihara beberapa ekor kucing. Puncaknya sih hingga berjumlah belasan. Aku tidak ingat jelas antara 11 – 13 ekor. Yang pasti anak-anak kucing ini aku dapatkan dari dua indukan kucing kampung dan semi anggora (karena bulunya agak panjang).

Dari sekian banyak kucing ini hanya yang semi angora inilah yang sampai akhir hayatnya aku kuburkan sendiri. Usianya sekitar 8 tahun, karena ia lahir saat aku kelas 3 atau 4 SD dan meninggal saat aku kelas 2 SMA. Yang lainnya hilang entah kemana saat mereka sudah berusia diatas 3 tahunan.

Dari memelihara kucing inilah aku belajar, ternyata mereka juga punya sifat seperti manusia. Ya, dari kucing betinaku ini. Peking si semi angora, adalah betina yang pemilih. Tidak mau dia kawin dengan kucing jantan yang dari segi tampilan dan muka kurang mendukung. Walhasil memang anak-anaknya semuanya bagus, bahkan beberapa ekor mirip dengannya dengan bulu yang agak panjang. Anehnya lagi setiap beranak dia selalu 2 ekor dan selalu jantan, hanya sekali anaknya jantan dan betina.

Beda lagi dengan saudara kandungnya, Cadix, yang tidak pernah memilih pejantan untuk kawin. Bisa ditebak anak-anaknya sangat berbeda jauh kualitasnya dengan Peking, bahkan beberapa kali melahirkan anak dengan corak warna blur, seperti yang biasa kita temukan pada kucing-kucing di pasar.

Bagaimana dengan kehamilannya? Tentu saja berbeda. Peking hanya hamil setahun sekali, sedangkan Cadix hamil bisa 2 kali dalam setahun.

Yang lucu adalah hilangnya Cadix dari rumah ini kemungkinan karena dibuang tetaggaku sebelah rumah yang dia penjual bakso. Cadix sudah sering kali ditemukan oleh mereka mencuri bakso besar (berisi telur) yang ia curi hanya dengan memanjat tembok rumah depan yang tingginya kurang dari 1,5 meter dimana sebelahnya ada gerobak bakso mangkal tetanggaku. Mungkin karena dianggap merugikan, maka Cadix dibuang.

Nasib kucing-kucingku yang lain, selain Peking, entah kemana rimbanya aku tidak tahu. Biasanya kucing jantan saat sudah masuk masa birahi, mereka suka keluar rumah, bertarung dengan pejantan lain, luka-luka, jarang pulang hingga benar-benar tidak pulang selamanya.

Itu sekilas ceritaku tentang kucing yang aku alami saat masih SD. Selanjutnya aku aku ceritakan bagaimana keseruanku memelihara hewan lainnya dalam jumlah yang lumayan banyak.

Ikuti cerita selanjutnya di Petlovia.com

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *