Tag Archives: cara menulis buku

Bagaimana Cara Menulis Buku Pertama ?

Menulis Buku Pertama bukan hal mudah bagi setiap orang. Harus ada tips dan trik khusus untuk bisa menyelesaikan buku perdana yang bisa menjadi gerbang bagi tertulisnya buku-buku selanjutnya.

Apakah tips dan trik itu?

Setidaknya ada beberapa point yang bisa menjadi pertimbangan, yaitu:

  1. Menulis sesuatu yang kita kuasai
  2. Menulis yang Terterdekat dengan kita

Berikut saya tuliskan Cara Menulis dan Membuat Buku Pertama Serta Panduan Lengkapnya, dengan harapan Anda akan mudah untuk memahaminya.

Yuk silahkan dibaca ya,

  1. Proses Menulis Buku

Pernah merasa tertekan saat akan menulis? Dengan berbagai alasan; belum biasa, kurang banyak membaca, kurang pengalaman atau apalah itu. Lalu, bagaimana jika Anda dihadapkan pada kenyataan menulis sebuah buku? Wah kebayang lagi giman lebih bingungnya, ya kan? Iya iya lah. Lha wong nulis artikel saja punya banyak alasan untuk menghindar, apalagi nulis buku yang tentunya berat berkali-kali lipat dari nulis artikel. Nah, dalam artikel ini saya akan membahas tentang bagaimana Cara Menulis Buku Pertama Berikut Panduan Lengkapnya. Menarik kan? Yuk kita mulai pembahasannya.

Menulis Artikel VS Menulis Buku

Nulis buku itu memang tidak mudah. Saya ulangi, Tidak Mudah. Kenapa? Karena kita harus bisa mengaitkan satu tulisan yang kita buat dengan tulisan lainnya. Anggap saja tulisan yang kita buat dalam satu judul itu artikel, maka buku ini harus menggabungkan banyak artikel dengan panjang yang lumayan untuk saling terkait membentuk satu cerita dan alur yang menarik.

Masalahnya adalah bagi Anda yang tidak terbiasa menulis, ini  menjadi semacam ujian berat dalam hidup. Hahahha.

Ya, jika menulis artikel adalah ujian kecil yang mungkin mudah dilewati dalam satu atau beberapa hari saja, menulis buku ini bisa satu atau beberapa bulan. Bahkan mungkin tahun atau seumur hidup, karena saya yakin banyak orang yang hingga meninggal tidak menulis buku sama sekali.

Kan pernah nulis skripsi? Eh… jangan salah skripsi berbeda dengan buku. Karena buku biasanya  ditulis karena ingin sharing sesuatu yang berguna, sedangkan skrips ditulis biasanya karena kewajiban akademik, juga tuntutan dari orang tua dan mertua, Ups…benar kan?

Seberapa sulit sih?

Sebagai gambarannya untuk menulis artikel maka kita harus mendapatkan point-point dan bahan penulisan serta alurnya. Ya, dalam penulisan artikel yang jumlahnya biasanya minimal 1 halaman A4 harus mengandung tiga unsur tadi. Nah, masalahnya dalam penulisan 1 judul (sub bab) buku, kita harus menulis minimal 2 halaman bahkan lebih. Llebih panjang setiap judul dalam setiap bab buku biasanya lebih menarik, karena biasanya lebih lengkap dan detail.

Itu baru satu judul, bagaimana jika kita harus menulis banyak judul yang semuanya harus ada keterkaitan satu sama lain? Tentu bukan hal yang mudah bukan? Karena itu penting untuk mengetahui bagaimana cara dan panduan menulis buku pertama sebagaiman yang akan kita bahas dalam artikel ini.

Menulis Buku Membutuhkan Niat yang Kuat

Apa niat awal Anda menulis?

Saya perlu menanyakan ini karena jawaban Anda akan berpengaruh pada bagaimana buku Anda nantinya. Jika Anda niat menulis buku untuk formalitas, misalnya untuk kenaikan pangkat, jabatan, dll pasti akan berbeda dengan saat Anda menulis buku untuk membranding diri Anda di public.

Tidak bisa dipungkiri bahwa niat dan tujuan orang menulis buku memang berbeda-beda. Karena itu penting untuk mengetahui hal ini dengan jelas serta bagaimana teknik dan proses penulisan bukunya selanjutnya. Pada penulisan dengan niat pertama, biasanya yang menjadi pedoman adalah waktu dan jumlah halaman, tentunya dengan tetap memperhatikan kaidah penulisan buku yang baik dan benar. Sedangkan pada utnuk buku kedua, tidak mudah untuk membranding seseorang apalagi jika sebelumnya belum dikenal banyak di tengah public. Harus cocok antara konten, cara dan sasarannya karena ini akan mempersepsikan kesan di tengah masyarakat.

Menulis Buku Membutuhkan Semangat

Untuk menulis artikel yang hanya satu atau beberapa halaman saja dibutuhkan semangat yang kuat. Apalagi untuk menulis buku yang jumlah halamannya lebih banyak. Dibutuhkan semangat yang lebih besar lagi agar buku yang kita inginkan bisa terwujud.

Caranya?

Bayangkan bagaimana perasaan Anda saat buku yang akan Anda tulis selesai. Misalnya dengan buku itu Anda bisa memenuhi syarat tertentu untuk kenaikan karir Anda di perusahaan / instansi tempat Anda bekerja. Atau denan buku pertama ini Anda bisa membagikan berbagai hal bermanfaat yang ke depannya tentu akan lebih semangat lagi untuk menulis buku.

Cara ini sangat efisien dilakukan, karena setidaknya kita bisa melewati masa-masa sulit dalam proses penulisan buku, misalnya proses pengumpulan bahan dan data yang sulit, wawancara yang melelahkan serta proses transkrip wawancara yang membosankan. Belum lagi proses rewriting yang membutuhkan konsenstrasi penuh. Semua itu memang sangat memberatkan saat kita tidak punya gambaran positif saat apa yang kita lakukan dalam proses menulis ini nantinya membuahkan hasil (buku pertama kita selesai).

Menulis Buku Membutuhkan Waktu

Nah, ini sebenarnya adalah modal utama dalam menulis, waktu. Ya, saat Anda akan menulis Anda harus rela meluangkan waktu yang tidak sebentar. Normalnya menulis 1 buku itu membutuhkan waktu 2-3 bulan dengan tebal buku jadi sekitar 100 – 150 halaman. Itu dengan catatan tidak ada sesuatu yang menghambat atau dengan kata lain proses pengumpulan bahan, penulisa dan editing berjalan dengan lancar.

Luangkan Waktu Khusus untuk Menulis

Menulis adalah proses kontemplasi, saat Anda memamah biahkan kata-kata dari apa-apa yang pernah And abaca sebelumnya. Saat proses itulah dibutuhkan konsentrasi penuh. Karena itu sebaiknya proses menulis dilakukan saat Anda merasa rileks dan tenang tanpa ada gangguan apapun. Misalnya saya yang seorang full time writer, meski sehari-hari saya ada di rumah, tapi saya memilihh waktu untuk menulis saat pasukan kecil saya terlelap tidur. Karena tahu sendiri bagaimana sukanya anak balita melihat laptop ayahnya yang sedang terbuka. Iya kan?

  1. Hal Teknis Sederhana dalam Penulisan Buku

Pilih Jenis Buku yang Akan Ditulis

Sebelum mulai ngegas nulis buku dengan semangat 45 nih, Anda harus menentukan dulu, jenis buku apa yang akan ditulis. Ini sangat penting, karena dengan mengerti jenis buku yang akan ditulis setidaknya kita punya gambaran; bagaimana buku kita nantinya, bahan apa saja yang kita butuhkan, bagaimana cara menulisnya dan setidaknya ada contoh buku referensi yang sudah jadi.

Perbanyak Referensi untuk Menulis

Bagi seorang penulis pemula, mungkin yang paling sulit dalam menulis adalah proses menulis itu sendiri (rewriting). Padahal sesungguhnya jika kita sudah terbiasa menulis, maka proses yang sangat penting lainnya adalah saat pengumpulan bahan.

Mengapa?

Karena dengan bahan yang sedikit, bisa dipastikan proses penulisan buku akan terkendala. Tapi biasanya kebanyakan penulis pemula sangat terburu-buru saat melakukan proses ini, karena mereka merasa apa yang mereka dapatkan sudah banyak. Padahal saat proses menulis mereka baru menyadari bahwa bahan-bahan yang didapatkan ternyata tidak semuanya layak untuk ditulis.

Maka penting saat proses pengumpulan bahan ini untuk mengakomodir semua bahan sebanyak mungkin. Tidak terbatas pada wawancara dan bahan tertulis, bahkan foto-foto, ijazah dan sertifikat penghargaan pun bisa memperkaya tulisan.

Membuat Outline

Outline adalah daftar point-point penulisan yang akan digunakan untuk panduan dalam menulis. Outline ini bisa disebut juga sebagai daftar isi buku sementara yang dalam proses penulisan buku bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan.

Jika Anda ingin membuat outline, bisa melihat pada daftar isi buku yang sudah jadi. Pelajari dengan seksama bagaimana daftar isi dibuat oleh penulisnya. Misalnya untuk oultline buku autobiografi Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Madji, maka yang ditulis adalah bagaimana;

  1. Latar belakang keluarganya
  2. Masa kecilnya
  3. Masa remaja
  4. Saat menuntut ilmu di Mesir
  5. Saat menjadi anggota DPR
  6. Saat menjadi Gubernur NTB
  7. Apa yang dilakukan dalam memajukan NTB

Secara garis besar online awalnya seperti itu. Kita bisa melihat bahwa sebenarnya dengan outline ini kita harus terbantu untuk mengembangkan tulisan kita. Bukan sebaiknya.

Outline Dulu atau Referensi Dulu?

Ada yang bertanya kepada saya, lebih baik mana membuat outline dulu atau mencari referensi dulu?

Jawabannya adalah semuanya sama-sama baik. Karena sifat outline adalah sementara. Di awal kita boleh membuat outline dengan menulis idealnya buku kita membahas apa saja, tapi dalam proses penulisan, outline ini sah-sah saja jika berubah, karena mungkin ada beberapa point dalam outline yang kita tidak mendapatkan referensinya. Atau melakukan perubahan agar pembahasan buku lebih menarik, mudah  dipahami, dll.

Perlu diingat referensi dalam penulisan buku bukan hanya bahan yang akan kita pakai untuk menulis, tapi juga buku sejenis yang bisa kita buat contoh untuk penulisannya. Ada banyak macam buku yang bisa dijadikan referensi. Jadi misalnya akan menulis buku tentukan hal ini.

Misalnya:

Akan menulis buku apa? Kisah hidup

Detailnya ? Buku autobiografi

Contohnya seperti apa? Buku …… (buku autobiografi tokoh yang sudah ada)

Perbanyak Referensi Tapi Punya Gaya Sendiri

Dengan banyak punya referensi buku, baik untuk bahan maupun contoh penyajian, maka kita akan semakin mudah untuk menulis buku pertama. Mempunyai banyak referensi sangat perlu, tapi kita juga harus punya gaya bahasa sendiri.

Menulis ada kegiatan kreatif, jadi semakin orisinil tulisan kita akan semakin baik. Buku-buku yan kita baa bisa jadi mempengaruhi perbendaharaan kata kita, tapi jangan sekali-kali untuk meniru gaya bahasa penulis lain. Miliki gaya penulisan sendiri. Dengan ini kelak pembaca akan menganali gaya bahasa kita.

Pisahkan antara Menulis dan Mengedit

Salahsatu kendala menulis yang hingga saat ini banyak dilakukan orang adalah ingin menulis dengan sempurna, tanpa ada salah sama sekali. Saat itulah mereka melakukan kesalahan besar. Karena menulis sejatiny adalah kegiatan bawah sadar kita untuk menuliskan kembali apa yang kita baca, lihat, dengar dan rasakan. Saat Anda berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang bagus dengan sekali tulis (tanpa edit), maka Anda akan terjebak pada kondisi takut salah yang mengakibatkan Anda salah terus.

Lalu bagaimana solusinya?

Saat menulis ya menulis saja. Jangan perhatikan; salah ketik, ejaan, kata per kata, kalimat per kalimat. Apa yang ada dalam hati dan kepala Anda keluarkan semua. Karena sebenarnya ini yang membuat sebuah tulisan mengalir. Tidak terhambat dengan perasaan takut salah.

Done is Better Than Perfect

Ini buku pertama. Jangan pernah mengharap buku pertama langsung bagus dan mendapat respon yang tinggi. Apalagi jika sebelumnya Anda belum terbiasa menulis. Memang ada seorang yang sekali menulis buku langsung mendapat respon yang baik dari masyarakat. Tapi ingat itu buku pertamanya, tapi bukan tulisan pertama.

Lalu bagaimana dengan buku pertama ini?

Yang utama adalah selesaikan dulu tugas Anda untuk misi penulisan buku pertama ini. saat misi pertama selesai, Anda otomatis akan punya semangat lagi untuk menulis buku kedua. Biasanya seperti itu. Buku kedua, ketiga dan selanjutnya biasanya lebih baik hasilnya, bahkan untuk pengerjaannya pun biasanya lebih efektif. Ya, Anda sudah punya pola menulis sendiri; kapan waktu yang nyaman bagi Anda menulis, bagaimana cara Anda mencari bahan tulisan di toko buku, perpustakaan, online, dll. Atau saat Anda menggunakan bahan dari wawancara, Anda tahu bagaimana cara mewawancara yang baik, cara transkrip yang efisien dan menulis naskah dengan lebih baik.

Baca Ulang dan Hidupkan Lagi

Saat penulisan selesai, coba untuk membaca ulang lagi. Koreksi kesalahan ketik per kata, kalimat, paragraph. Lakukan semampu Anda. Atau jika Anda ingin hasilnya lebih baik, Anda bisa menggunakan jasa editor yang lebih kompeten untuk mengedit tulisan.

  1. Proses Membuat Buku

Bagaimana cara membuat buku pertama ? sebenarnya pertanyaan ini sama dengan bagaimana mencetak buku pertama? Namun jika pertanyaan tetap seperti itu, maka Anda yang hanya membaca sekilas artikel dan sampai pada point ini, maka harus membaca ulang dari atas lagi. Semangat ya. He……

Untuk mencetak buku pertama kalinya, biasanya kebiasaan orang awam dengan percetakan. Bahkan ada yang tidak bisa membedakan antara percetakan dan penerbitan. Mudah seperti ini, penerbitan adalah usaha yang terdiri dari beberapa orang yang tugasnya menjadikan buku Anda dalam bentuk desain (adanya konten tulisan, lay out dan kover). Sedangkan percetakan adalah usaha yang bergerak dalam hal cetak-mencetak barang, salahsatunya adalah buku. Atau dengan lain penerbitan berkaitan dengan editing dan desain, sedangkan percetakan berkaitan dengan fisik buku.

Bagaimana cara mencetak buku yang efisien?

Caranya adalah dengan mencetaknya sesuai kebutuhan. Jika Anda membutuhkan hanya untuk syarat kenaikan pangkat jabatan / profesi, maka Anda cukup mencetaknya sejumlah yang diminta lembaga Anda dengan dilebihkan sebagai arsip. Begitu juga saat Anda membutuhkannya untuk buku ajar, maka Anda bisa mencetak sejumlah anak didik yang akan menggunakan buku Anda. Atau bagi Anda seorang motivator, dll yang membutuhkan dalam jumlah yang banyak, sebaiknya pertimbangkan opsi cetak lebih banyak harga lebih murah yang umum di berikan oleh percetakan. Intinya cetaklah buku sesuai kebutuhan Anda.

Mungkin cukup sekian pembahasan kita tentang  Cara Menulis dan Membuat Buku Pertama Serta Panduan Lengkapnya. Pembahasan dalam artikel ini akan terus saya tembah sesuai pertanyaan dari Anda yang masuk ke kontak saya. Jadi, jangan pernah bosan untuk berkunjung ke blog ini ya, dan sekedar klik artikel yang pernah Anda baca. Ok semoga sharing kali ini bermanfaat bagi Anda yang ingin mempunyai buku pertama. Tetap semangat menulis !

Untuk Cara Menulis Buku Pertama sudah saya buatkan videonya. Ini dia ……

Sedangkan untuk Cara Menulis dan Membuat Buku Pertama, ini videonya …….

Jangan bosan untuk berkunjung ke artikel ini. Karena dengan bertambahnya pengalaman dan informasi yang saya terima, saya akan menambah detail artikel ini.

Dapatkan cara menulis buku lainnya dengan mengunjungi blog saya, PenulisKreatif.com

Semoga bermanfaat.

Cara Membuat Kerangka Tulisan

Pembahasan kita kali ini adala tentang Cara Membuat Kerangka Tulisan. Pembahasan ini penting bagi kamu yang ingin menulis apa saja; artikel, makalah bahkan buku atau karya ilmiah tingkat akhir seperti skripsi, tesis dan desertasi. Seperti apa pentingnya menulis kerangka tulisan ini untuk sebuah proses penulisan? Untuk menjawab ini maka artikel sederhana ini ditulis.

Sebelum menulis usahakanlah untuk membuat kerangka tulisan. Karena dengan cara ini kita bisa menulis dengan lebih terarah. Jangan sampai  kami menulis hanya semangat di awal saja, tapi selanjutnya jadi kehabisan ide, karena sebelumnya kamu tidak membuat kerangka tulisan. Sayang sekali kan? Cobalah untuk membuatnya meski isinya hanya beberapa kalimat yang bisa memudahkan kamu untuk menyelesaikan tulisan yang sedang kamu kerjakan.

Pasti pernah merasakan macet saat menulis kan? Apakah ini karena kekurangan ide? Kadang iya, tapi kadang juga tidak. Terlalu banyak ide pun kadang membuat kita bingung jika menulis tanpa kerangka. Karena bagi saya, menulis tanpa kerangka, seperti halnya kita membawa bekal yang banyak, tapi tidak tahu berapa lama kita harus menempuh perjalanan dan dimana saja tempat kita berhenti untuk makan, dll.

Apa jadinya? Tentu bekal yang kita bawa bisa habis lebih dulu sebelum perjalanan yang kita lakukan selesai atau sampai pada tujuan. Begitu juga dengan menulis. Bahkan untuk menulis sebuah tulisan pendek pun, seperti artikel , sebaiknya kita membuat kerangka tulisannya, karena ini tentu akan sangat memudahkan dalam proses penulisan.

Macam-macam kerangka tulisan

  1. Kerangka tulisan untuk artikel

Kerangka tulisan untuk penulisan artikel cukup sederhana saja. Kamu bisa membuautnya dengan menuliskan point-point penting yang akan ditulis. Tapi ingat, sederhana tapi tidak boleh ditinggalkan sama sekali. Kamu harus tetap membuatnya.

Kenapa? Tentu karena kerangka ini bisa menjadi penuntunmu saat dalam proses penulisan artikel. Apalagi saat kamu harus menulis artikel dengan kategori panjang, misalnya 700, 1000, 1500 kata atau bahkan lebih. Tidak bisa hanya dengan sekali tancap gas, tanpa ada kerangka tulisan yang kamu buat sebelumnya.

Bagaimana contoh kerangka tulisan untuk artikel? Begini contoh sederhananya. Misalnya kita akan menulis artikel tentang Cara Memasarkan Buku dengan Internet Marketing:

Cara Memasarkan Buku dengan Internet Marketing

  • Perkembangan zaman saat ini dengan makin bertambahnya pengguna internet
  • Kebiasaan masyarakat saat ini adalam membeli barang secara online
  • Banyak barang yang bisa ditawarkan via online. Salahsatunya adalah buku
  • Jualan buku via online bisa dilakukan dengan dua cara; gratis dan berbayar
  • Cara gratis bisa dilakukan dengan postingan di social media, misalnya Fb, Ig, Twitter, dll
  • Cara berbayar bisa dilakukan dengan ngiklan di Fb, Ig atau juga Google
  • Lakukan evaluasi hasil jualan dengan cara gratis dan berbayar
  • Kesimpulan

Dengan kerangka tulisan seperti diatas tulisan kamu akan lebih terarah. Dengan kerangka seperti itu juga akan memudahkan kamu untuk menulis minimal artikel 700 kata bahkan lebih.

  1. Kerangka tulisan untuk karya ilmiah (makalah)

Kerangka tulisan untuk karya ilmiah yang terpenting adalah selain menuliskan point-point yang akan dipakai, juga harus dituliskan sumber referensinya. Namanya juga ilmiah, karena itu setiap argument yang ada di tulisan tersebut harus ada sumbernya yang akurat.

Lebih baik jika membuat kebih dulu kerangka tulisannya, baru mencari sumber-sumber referensinya. Biasanya setelah mendapatkan sumber referensi, kerangkan tulisan yang kita buat akan bertambah. Lakukan saja sampai tulisan yang kita buat hasilnya maksimal (enak dibaca, lengkap dan sumber referensinya akurat).

  1. Kerangka tulisan untuk buku

Nah, untuk membuat kerangka tulisan untuk buku ini memang dibutuhkan usaha ekstra disbanding dua kerangka tulisan diatas. Dalam penulisan buku sebagian orang menyebutnya sebagai outline.

Outline buku ini sangat penting dibuat untuk membuat penulisan buku runut, menarik dan mudah dipahami oleh pembaca. Cara pembuatan outline ini ada dua. Ada yang membuatnya dulu, baru mencari bahan-bahan penulisannya. Ada juga yang sebaiknya, mengumpulkan bahan-bahan penulisannya, baru membuat outlinenya.

Kamu bisa melakukannya sesuai dengan kemampuanmu. Tidak ada salahnya mencoba, baru kamu akan tahu mana yang terbaik dan mudah untukmu.

Diatas kita sudah bahas untuk jenis kerangka tulisan, yang untuk sementara ini, saya tuliskan hanya 3 macam dulu. Pembahasan yang tidak kalah penting tentang kerangka tulisan ini adalah,

“Bagaimana cara membuat kerangka tulisan?”

Cara membuat kerangka tulisan yang paling baik adalah yang tidak sekali buat langsung jadi, tapi bisa berubah-ubah sesuai dengan bertambahnya ide dan bahan tulisan yang muncul dalam proses penulisan.

Bagaimana langkah-langkah membuat kerangka tulisan?

Untuk tahap awal coba buat secara global dulu yang penting tahu point-point pentingnya apa dan bagaimana menjabarkannya. Baru setelah proses penulisan berjalan kita bisa menambahkan supaya bisa lebih lengkap dan detail dari sebelumnya.

Artikel tentang Cara Membuat Kerangka Tulisan ini akan terus saya tambah sesuai dengan data dan informasi yang dibutuhkan untuk mendukung artikel ini. Jadi jangan lupa untuk selalu berkunjung ke blog referensi penulisan terlangkap ini.

Silahkan kamu boleh berkomentar untuk menanyakan apa saja yang mungkin belum kamu pahami tentang bahasan di artikel ini. Sekian pembahasan kita kali ini Cara Membuat Kerangka Tulisan.

 

tips membuat kerangka tulisan

Tips dan Cara Menjaga Mood untuk Menulis

IwanWahyudi.net – Tips dan Cara Menjaga Mood untuk Menulis. Menulis adalah kegiatan yang banyak manfaatnya. Karena selain untuk menambah kekuatan daya ingat, menulis juga dapat melatih kita untuk berpikir lebih logis. Tapi sayangnya memang tidak semua orang suka menulis, salah satunya adalah karena mood yang jelek. Bagaimana cara mengatasinya? Yuk kita simak di artikel yang singkat ini.

Berdasarkan polling yang dilakukan oleh 27 orang di grup diskusi telegram saya, lima hal yang membuat seseorang malas menulis prosentasenya seperti ini:

tips dan cara menulis buku

Mood sebenarnya memang bagaimana perasaan hati kita. jika kita semang, maka apa yang kita lakukan akan baik, begitu juga sebaliknya. Untuk yang lain boleh lah mungkin kita melakukannya dengan mood, tapi bagi kegiatan menulis TIDAK BOLEH. Kenapa? Karena jika hanya tergantung mood, maka kamu hanya bisa menjadi penulis artikel saja. Tidak akan bisa sampai menjadi penulis buku, konten perusahaan atau konten penulisan yang lebih menantang lainnya.

Ya, dengan hanya tergantung pada mood, maka kita hanya memilki sedikit waktu untuk menulis. karena mood ini memang tidak bisa kita prediksi. Ia bisa saja datang dan pergi sesuai dengan kodisi kita saat itu.

Misal nih, kita awalnya akan pergi liburan ke suatu tempat dengan pasangan, eh ternyata ada kepentingan mendadak dari pasangan kita (entah ada panggilan dari kantor, dll) dengan begitu mood kita kan berubah yang awalnya sudah senang jadi murung. Itu baru satu contoh, padahal masih banyak contoh lainnya yang membuat mood kita berkurang bahkan hilang sama sekali.

Jadi, jika kita mengikuti mood kapan kita akan menulis?

Apalagi jika kamu menjadikan profesi menulis sebagai profesi utama. Ya gak bakal kelar tuh job dari klien jika mood yang menjadi ukuran.

Memang ada sih orang yang katanya kalau sudah mood bisa dalam semalam menyelesaikan 1/3 bahkan setengah halaman buku, tapi bisa ditebak kan hasilnya seperti apa?

Lalu bagaimana Tips dan Cara Menjaga Mood untuk Menulis ?

  1. Anggap Kegiatan Menulis itu Penting

Menjadikan sesuatu itu penting otomatis bisa menghilangkan berbagai hal yang dianggap kurang penting dibanding sesuatu itu. mudahnya seperti ini, saat kuliah dulu, seorang dosen pernah berbesan kepada kami,

“Cobalah supaya kalian itu semangat untuk menulis, bayangkan kalian adalah seorang narapidana hukuman mati yang akan dijatuhi hukuman mati besok. Kalian diberi waktu 1 hari ini untuk menulis surat pada Raja yang kemungkinan dengan surat itu kalian akan mendapatkan keringanan hukuman, bahkan dibebaskan. Akan kah kalian akan malas-malasan menulis?”

Begitu juga dengan keadaan kita saat ini. jika kita tidak merasa “terdesak” untuk menulis, maka kita selamanya akan berleha-leha untuk menari alasan untuk tidak menulis.

  1. Kegiatan Menulis Harus Menyenangkan

Untuk menumbuhkan mood yang bagus saat menulis, maka kita harus menganggap bahwa kegiatan menulis ini menyenangkan. Jangan menganggap menulis itu membosankan, tapi anggap dengannya kita bisa merefleksikan apa yang ada di hati, otak dan pikiran.

Jika kita sudah menanamkan rasa senang menulis, pada setiap saat kita akan merasa perlu untuk menulis. Dengan kata lain menulis sudah merupakan kebutuhan kita.

Apalagi saat kamu sudah memutuskan untuk menjadikan nulis sebagai profesi utama, maka waktu untuk menulis ini harus dialokasikan rutin setiap harinya. Saya pribadi yang saat ini mempunyai 3 orang anak yang masih kecil, selain setiap harinya berbagi tugas dengan istri menjaga anak kami di rumah, saya juga harus menulis untuk buku pesanan klien dan beberapa blog yang saya miliki.

  1. Kegiatan Menulis Harus Menghasilkan

Saat kita sudah memutuskan bekerja pada satu bidang, maka pahit-manis di pekerjaan itu harus kita jalani. Begitu juga dengan menulis. saat kita sudah memutuskan menjadi penulis, maka apa pun hambatan dan rintangan dalam menulis harus bisa dikalahkan.

Jujur saya katakan bahwa banyak orang hanya melihat profesi menulis ini hanya enaknya saja, padahal jika mau mendalami lebih jauh menulis bukan hanya mengetik, karena dengannya mengharuskan kita untuk banyak membaca, meriset dan menyajikan tulisan yang menarik dan mudah dipahami oleh pembaca.

Tapi semua ini tentu terbayar dengan penghasilan yang juga seimbang. Semakin tinggi tingkat kesulitan konten yang kita tulis, tentu semakin tinggi juga nilainya. Begitu juga sebaliknya. Karena itu mood-moodan memang harus dihilangkan saat kita sudah memutuskan diri sebagai seorang penulis.

Saya pernah dengar cerita dari seorang guru menulis saya, bahwa Ramadhan K.H, penulis biografi legendaris Indonesia, setiap hari punya jam rutin untuk menulis (sambil membaca / riset penulisan) setelah sholat subuh hingga jam 11 siang. Bisa dihitungkan kan, berarti per hari sekitar 6 jam. Dan ini tetap beliau lakukan hingga akhir hayatnya. Padahal beliau adalah penulis biografi sekaligus budayawan dengan jam terbang tinggi, tapi tetap mendawamkan kebiasaan menulisnya setiap hari tanpa peduli dengan mood lagi.

Bagaimana dengan kita?

Jadi memang proses tidak akan mengkhianati hasil. Siapa yang mau bersungguh-sungguh dan fokus dengan apa yang dijalani pasti membuahkan hasil yang sama.

Nah, masih mau malas menulis dengan alasan moodnya lagi jelek? Coba kita pikir ulang apa saja kerugian kita dapatkan jika kita masih melakukannya hingga saat ini.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk menambah semangatmu menulis. kamu bisa baca tulisan serupa di kategori tips menulis buku yang ada dalam blog ini.

 

 

Syarat Menjadi Penulis adalah Mengalokasikan Waktu Khusus Menulis

Pembahasan kita kali ini adalah tentang Syarat Menjadi Penulis adalah Mengalokasikan Waktu Khusus Menulis. pembahasan ini penting bagi kamu yang ingin menjadi penulis. Karena banyak orang yang mengatakan bahwa penulis adalah profesi yang fleksibel. Tapi mengapa banyak orang gagal menjadi penulis?

Untuk menjawabnya kita harus bisa menguraikan dulu apa-apa yang ada pada anggapan banyak orang dengan kenyataan yang harus dilakukan seseorang untuk menjadi penulis.

Bagi sebagian besar orang beranggapan bahwa:

  • Menulis itu mudah
  • Menulis itu enak. Kerjanya santai, bisa dimana dan kapan saja

Tapi kenyataannya jumlah penulis yang eksis saat ini di Indonesia tidak banyak. Jika pun ada banyak, sebagian dari mereka biasanya menjadikannya sebagai profesi sampingan, bukan full time writer.

Mengapa banyak orang gagal menjadi penulis ?

Menurut saya pribadi, karena salah kaprah tentang profesi menulis. jadi, mereka memilih profesi menulis dengan harapan bisa santai, tanpa target yang jelas, bisa apa saja bebas yang penting tetap bisa mendapatkan penghasilan dari profesi menulisnya.

Nah, ini sebenarnya yang membuat banyak orang gagal menjadi penulis. Karena apa yang ada dibayangan mereka adalah yang enak-enak saja. Padahal bagaimana sebenarnya profesi penulis itu?

Saya pribadi menjalani profesi penulis ini dengan nyaman, santai, enjoy dan fleksibel. Tapi satu hal yang harus diingat, babhwa saya punya target harian yang harus dicapai. Misalnya dalam satu hari saya harus menulis sekitar minimal 10 halaman untuk buku dan 1 artikel dengan panjang minimal 700 kata. itu adalah target minimal, bisa lebih dari itu tentu lebih baik lagi.

Kenapa harus ada target?

Karena saya punya tanggung jawab pada klien saya. Tidak mungkin saya hanya bersantai-santai, sedangkan saya dibayar untuk menyelesaikan sebuah atau beberapa proyek penulisan buku.

Bagaimana pembagian waktu bagi kita yang sudah memutuskan diri menjadi penulis?

Pertanyaan ini penting untuk dijawab. Bagi saya jika kamu mennjadikan profesi menulis sebagai sampingan, dengan kemampuan menyelesaikan satu buku dalam 3 bulan, maka kamu binya menyisihkan waktu sekitar 2 jam setiap harinya untuk menulis.

Tapi jika kamu sudah memutuskan untuk menjadikan profesi penulis sebagai profesi utama, maka kamu harus siap untuk menyisihkan waktu sekitar 5 hingga 7 jam setiap harinya.

Apakah saya melakukannya ?

Iya hingga saat ini saya tetap melakukannya. Saya biasa mengalokasikan waktu pagi, sekitar jam 7 hingga jam 10 / 11. Lanjut lagi pada malam hari mulai pukul 8 malam hingga jam 10 / 11 malam.

Dengan mengalokasikan waktu seperti itu saya bisa menikmati waktu yang lainnya untuk berinteraksi dengan keluarga. Misalnya setelah sholat subuh, saya rutin jalan-jalan keliling komplek perumahan bersama istri dan anak-anak saya.

Begitu juga dengan sore hari setelah ashar hingga sebelum magrib, kami biasakan untuk bersilaturahim dengan tetangga sekitar. Ini saya lakukan karena saya sadar bahwa menulis adalah profesi yang sangat fleksibel, jadi saya bisa melakukannya kapan dan dimana saja. Dan untuk ini saya memilih rumah sebagai tempat bekerja saya. Sejatinya menulis membutuhkan tempat dan suasana yang nyaman, yang itu semua juga bisa saya dapatkan di rumah.

Bagi kamu yang sudah memahami bahwa Syarat Menjadi Penulis adalah Mengalokasikan Waktu Khusus Menulis, maka kamu akan menyadari bahwa dengan pekerjaan ini kamu bisa melatih membagi waktu, karena kamu harus bisa seimbang; bisa membagi waktu untuk keluarga dan tetap menyelesaikan dateline penulisan dengan tepat waktu.

Awalnya memang tidak mudah, apalagi jika kamu sudah berkeluarga dan harus membantu istri dengan berbagi tugas dalam keluarga. Tapi hal itu akan terbiasa dengan sendirinya. Saya pribadi merasa dengan alokasi waktu menulis seperti saat ini, dengan menyisakan 5 hingga 7 jam sehari, sudah merasa cukup untuk membaca buku, melakuan riset data dan menulis sesuai target sebagaimana yang saya sebutkan diatas. Apalagi saat ini saya juga haru meluangkan waktu untuk membuat video yang saya posting di chanel youtube saya, Iwan Wahyudi Net, setiap 2 hari sekali.

Artikel ini akan terus bertambah sesuai dengan bahasan yang ada di dalamnya. Jadi, jangan lupa untuk terus berkunjung ke blog ini. Sekian pembahasan kita kali ini tentang Syarat Menjadi Penulis adalah Mengalokasikan Waktu Khusus Menulis.

 

 

Untuk lebih jelasnya silahkan simak video berikut …..

Cara Mendirikan Jasa Penulisan dengan Modal 300 Ribu Rupiah

Pembahasan kita kali ini adalah tentang Cara Mendirikan Jasa Penulisan dengan Modal 300 Ribu Rupiah. Pembasan ini penting bagi kamu yang ingin memiliki jasa penulisan sendiri. jadi, tidak ada salahnya jika kamu membaca artikel sederhana ini untuk mendapatkan pandangan tentang minimnya modal yang harus dikeluarkan untuk jasa penulisan online seperti yang saya miliki.

Sebelumnya, kamu harus menyadari, bahwa jasa penulisan ini termasuk pada usaha kreatif di bidang jasa. Jadi, karena ini usaha kreatif, maka sebenarnya masalahnya memang bukan pada biaya yang dibutuhkan untuk memulai usaha, tapi intinya adalah pada daya juang kita sehingga bisa menjadikan jasa penulisan yang kita miliki punya daya saing dengan yang lainnya. Meski tentunya silaturahim dengan sesama penulis dan pemilik jasa penulisan harus tetap dijaga.

Karena itu dalam artikel ini saya akan membahas tentang bagaimana perjuangan saya memulai jasa penulisan dengan modal awal sebuah blog dengan biaya hanya 300 ribu rupiah pada 7 tahun yang lalu. Ingat, biaya 300 ribu itu untuk 7 tahun lalu. Tapi jika kamu berminat untuk membuat blog yang layak untuk menawarkan jasa yang kamu punya, saya kira untuk awal memulai saat ini cukup dengan biaya 600 ribu saja (dengan asumsi traffic blog masih belum banyak).

Ok, saya akan mulai pembahasan ini dari awal hingga sampai jasa penulisan saya berjalan.

Dulu, sekitar tahun 2013, saya punya satu blog, yang awalnya hanya berisi proses saya belajar menulis (yang awalnya boleh dibilang saya belajar mengedit, sebagai editor di sebuah penerbit di Jakarta). Selanjutnya saya membantu (sebagai asisten) penulis biografi yang tugasnya bukan hanya mengumpulkan bahan penulisan, tapi juga ikut saat proses wawancara dengan klien. Saya juga mendapat kesempatan untuk menulis buku.

Berangkat dari proses belajar inilah saya selanjutnya mulai mencoba untuk membuat jasa penulisan sendiri, meski boleh saya katakan bahwa untuk memulai sesuatu yang baru ini sangat berat. Bukan hanya dalam mencari klien, tapi dalam segi penghasilan juga jauh dibanding yang telah saya terima sebagai asisten penulis biografi.

Tapi memang saat itu niat saya sudah bulat. Saya ingin mempunyai jasa penulisan sendiri. Karena itu semua tantangan yang ada saya hadapi saja dengan tenang, dengan tetap punya impian ke depannya saya bisa punya jasa penulisan yang eksis sebagaimana penulis yang telah mengajari saya menulis biografi selama 2 tahun.

Bagaimana Cara Mendirikan Jasa Penulisan dengan Modal 300 Ribu Rupiah sebagaimana yang saya lakukan saat itu?

Awalnya saya menyediakan semua layanan jasa penulisan, mulai artikel hingga buku dengan fee penulisan yang beragam. Tapi intinya memang fee nya jauh saat saya menjadi asisten penulisan buku biografi sebelumnya.

Tapi ini hanya berjalan sekitar 1 tahun saja, karena saat saya sudah mempunyai portofolio, biaya untuk setiap jasa penulisan yang saya tawarkan bisa sesuai dengan yang saya mau.

Memang jasa penulisan saya saat ini masih belum besar sebagaimana yang dimiliki penulis senior lainnya, tapi bisa tetap eksis hingga saat ini sudah merupakan kesyukuran untuk saya.

Sebagai wujud rasa terima kasih saya kepada Allah yang telah memberikan saya kesempatan saya untuk terus berkarya dan membantu klien penulisan, maka saya sengaja membuat chanel youtube untuk tujuan berbagi sedikit ilmu dan pengalaman yang saya punya. Dengan nama yang sama dengan blog ini, Iwan Wahyudi Net, chanel ini dibuat untuk memotivasi teman-teman penulis muda bahwa profesi penulis adalah profesi yang menjanjikan.

Artikel ini akan terus bertambah, sesuai dengan kebutuhan informasi yang ada di dalamnya. Jadi, jangan ragu untuk selalu mengunjungi blog kami ini. Mungkin cukup sekian pembahasan kita kali ini tentang Cara Mendirikan Jasa Penulisan dengan Modal 300 Ribu Rupiah.

 

 

Untuk lebih jelasnya silahkan simak video berikut …..

Tips Paling Mudah Menjadi Penulis

IwanWahyudi.net – Tips Paling Mudah Menjadi Penulis. Banyak teman dan saudara yang bertanya kepada saya “Bagaimana sih caranya menjadi penulis.” Tanpa ragu saya jawab, “Ya harus nulis.”

Sekilas memang seakan jawabannya asal-asalan kan, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Sebenarnya sama halnya dengan saat kamu ditanya oleh teman,

Bagaimana caranya supaya kuat? Ya harus kuat.

Bagaimana caranya supaya sehat? Ya harus sehat.

Bagaimana supaya bisa jalan? Ya harus jalan.

Simpel memang tapi dalam prakteknya memang tidak mudah. Karena memang sebagaimana kesuksesan, yang ingin sukses pasti semua orang, tapi yang benar-benar melakukan segala sesuatu untuk sukses hanya segelintir orang. Begitu juga dengan menulis. Mungkin yang ingin menjadi penulis sangat banyak, tapi yang melakukan kegiatan yang paling penting untuk menulis, yaitu latihan menulis, sangat malas.

Menulis ini sudah seakan menjadi trend saat ini. Banyak orang membayangkan menjadi penulis itu mudah, yaitu cukup dengan kemahiran mengetik 10 jari sudah semuanya. Padahal bukan itu karena menulis dan mengetik sangat beda jauh kerjanya.

Penulis vs Pengetik

Yang hingga saat ini menganggap bahwa menulis itu adalah mengetik, maka harus diluruskan disini. Menulis itu membutuhkan kemampuan berpikir. Sedangkan mengetik hanya membutuhkan kecepatan jari-jari dalam merangkai huruf, kata dan kalimat. Tidak ada pelibatan otak secara dominan dalam proses mengetik ini. Itulah kenapa jasa pengetikan sampai kapan pun akan jauh lebih murah dari jasa penulisan, meski kadang prihatin, ada yang tidak bisa membedakan antara keduanya.

Tapi untuk menjadi penulis kita harus tetap mengetik tulisan setiap harinya yang sudah kita rencanakan sebelumnya, atau dengan menulis bebas apa-apa yang ada di sekitar kita untuk latihan menulis.

Saya pribadi telah terbiasa melakukannya sejak awal di bangku SMP, meski saya tidak punya buku diary khusus, jadi menulis di buku-buku tulisan bekas saja. Baru saat saya mondok di PM Gontor, buku diary saya tak terhitung jumlahnya. Belum lagi buku-buku catatan yang selalu saya bawa saat setiap kali masuk ke perpustakaan.

Jadi, tanpa saya sadari sejak usia belasan tahun saya sudah menyukai aktivitas baca dan menulis ini. Jadi jika saat ini saya harus melakukan keduanya seakan tanpa beban lagi. So, saat ini sudah tahu kan tips paling mudah menjadi penulis? Ya, jawabannya adalah dengan selalu menulis.

 

Cara Efektif Menghasilkan Buku Pertama

Langkah efektif menghasilkan sebuah buku, bagi kalian yang ingin menulis buku. Adalah sebagai berikut:

  1. Ingin menulis buku apa?

Tentukan buku apa yang ingn kalian tulis, fiksi atau non-fiksi? Semuanya sama-sama baik, bermanfaat dan punya nilai. Karena yang membedakan baik atau tidaknya adalah kualitas tulisan, bukan berarti yang non-fiksi lebih baik karena riil terjadi, karena tidak sedikit buku non-fiksi yang ditulis syarat dengan nilai yang mulia.

  1. Outline

Saat ada ide menulis jangan sampai menguap begitu saja. Harus diikat dengan tulisan. Ya, ide itu datang pada siapa saja dan kapan saja, bedanya mereka yang kreatif dan tidak adalah si kreatif merasa idenya mahal, karena itu saat ide datang ia langsung menyimpannya dengan baik dengan menuskannya.

Terampil dalam membua outlie akan melatih kalian dalam menentukan arah, tujuan dan planning menulis yang baik. Jadi, mulai saat ini cobalah membuat outline tulisan dimulai dengan ide-ide yang kalian dapatkan.

  1. Yang penting mulai

Apa asaja yang ingin kalian tulis ya tuliskan saja. Karena kiat sederhana untuk menjadi penulis ya harus nulis !

Cobalah untuk menuliskan apa saja yang akan ditulis tanpa ada beban, keraguan dan ketakutan misalnya tulisannya jelek, kurang menarik, membosankan, sulit dipahami, dll.

  1. Dateline (maaf di gambar salah tulis, ya?)

Segala sesuatu harus punya target, begitu juga dengan menulis. Jika ingin sukses menulis buku pertama, caranya mudah, yaitu kalian harus tetukan kapan buku pertama ini harus selesai. Karena tanpa ada target yang ada kalian hanya berangan-angan ingin jadi penulis terkenal, kaya atau punya buku best seller tapi buku pertama kalian saja tidak ada. Benarkan seperti itu?

Yuk, mulai tentukan dateline penulisan buku pertamamu, dan… laksanakan !

  1. Mengedit

Nah, setelah tulisannya selesai coba untuk membacanya sendiri, pasti nanti akan menemukan bagian-bagian yang kira-kira enaknya gimana, indahnya gimana, supaya mudah dipahami bagaimana, dsb. Kamu juga bisa minta bantuan teman yang lebih profesional, supaya bisa mendapat masukan tentang cara penulisan yang lebih enak dibaca dan dipahami.

 

 

Tips efektif menulis buku ala Iwan